Selasa, 12 Februari 2013

makalah tatacara merawat jenazah


BAB I
PENDAHULUAN
1.1      LATAR BELAKANG
Kita ini adalah makhluk Allah, dan setiap makhluk Allah yang bernyawa pasti akan merasakan kematian. Dimanapun kita berada maka kematian akan menjemput kita walaupun kita berada di benteng yang sangat kokoh.

Firman Allah SWT :
﴿ كل نفس ذاءقة الموت و إنّما تُوَفَّوْن أجوركم يوم القيامة ﴾ الآية  - آل عمران: ١٨٥
Artinya: Tiap-tiap yang bernyawa itu akan merasakan mati, sesunkagguhnya pahala kamu akan disempurnakan pada hari kiamat. (Ali Imron : 185)

Adapun kematian dan kehidupan adalah merupakan ujian dari Allah swt sebagaimana terkandung dalam surah Al mulk ayat: 2
﴿ الذي خلق الموتۗ و الحياة ليبلوكم ايكم احسن عملا و هو العزيز الغفور ﴾ الملك : ٢
Artinya: yang menciptakan mati dan hidup, untuk menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan dia maha perkasa, maha pengampun.

Adapun arti dari mati itu sendiri adalah berpisahnya ruh dengan jasad. Pada waktu itu adalah waktu yang sangat menentukan apakah kita husnul khotimah ataukah suu ul khotimah. Islam menempatkan manusia sebagai makhluk yang mulia bila dibandingkan dengan makhluk-makhluk yang lain. Oleh karena itu dalam meninggalnya pun kita (yang) hidup diwajibkan untuk mengurusnya sebagaimana yang telah ditentukan oleh syara’. Akan tetapi masih banyak masyarakat islam yang masih belum mengerti tentang apa-apa yang harus dilakukan ketika ada ada saudara kita yang muslim meninggal dunia. Oleh karena itu penting sekali mengetahui tentang penyelenggaraan janaiz.

2.1      RUMUSAN MASALAH
Berdasarkan uraian latar belakang di atas maka kami rumuskan masalah sebagai berikut:
1.       Muhtadlor (orang yang mendekati ajal)
2.        تَجْهِيْزُ الْمَيِّتِ  (menyelenggarakan mayit)
3.       Ta’ziyah.     
4.       Mati syahid dijalan Allah.

3.1      TUJUAN
            1. Mengetahui apa yang harus dilakukan pada muhtadlor.
            2. Mengetahui cara menyelenggarakan mayit.
            3. Mengetahui definisi ta’ziyah serta dalil-dalilnya.
            4. Mengetahui pengertian mati syahid dan hokum-hukumnya.

BAB II
PEMBAHASAN

1. مُحْتَضَر    ( ORANG YANG MENDEKATI AJAL)
Muhtadlor adalah orang yang mendekati ajal tetapi belum meninggal. Adapun adab-adab yang perlu diperhatikan bagi orang yang disampingnya/ menungguinya adalah sebagai berikut :
1.      Menidurkan muhtadhor atas lempengnya yang sebelah kanan menghadap ke
kiblat, kalau tidak memungkinkan maka wajahnya saja dihadapkan ke kiblat.
2.   Mentalqin dengan kalimat LAA ILAHA ILLALLAH dengan lemah lembut, tidak
memaksanya sebagaimana hadits nabi yang diriwayatkan oleh imam muslim

عن أبي سعيد و أبي هريرة رضي الله هنهما قالا : قال رسول الله صلى الله عليه و سلّم :( لقّنوا موتاكم لاإله إلاّ الله ) رواه المسلم
Artinya: talqinlah orang yang akan meninggal di antara kalian dengan kalimat  LAA ILAHA ILLALLAH (HR. Muslim).

3.      Membacakan disampingnya surat Yaasin dan Ar ro’d.
و عن معقل بن يسار رضي الله عنه أنّ النبي صلى الله عليه و سلم قال: ( إقرؤوا على موتاكم يس ) رواه ابو داود و النساءي
Artinya: bacakanlah orang yang akan meninggal di antara kalian surat YAA SIIN

4.   Menganjurkan untuk husnudzon billah dan taubat kepada Allah.
Hal-hal yang dianjurkan bagi orang yang sudah meninggal sebelum dimandikan :
1.                  Memejamkan matanya.
2.                  Mengikat dari dagunya ke kepalanya.
3.                  Meluruskan sendi-sendinya (nyendakepno).
4.                  Melepaskan pakaiannya, serta menutupinya dengan kain yang ringan.
5.                  Meletakkannya diatas ranjang.
6.                  menghadapkannya ke kiblat seperti muhtadlor.
7.                  meletakkan diatas perutnya sesuatu yang bisa menekan perutnya.
8.                  Mendoakan mayit.
9.                  Cepat-cepat menyelesaikan tanggungannya.
10.               Cepat-cepat menyelenggarakan mayit (memandikan, mengkafani,menyolati dan
menguburkannya).

3.      تَجْهِيْزُ الْمَيِّتِ  (MENYELENGGARAKAN MAYIT)
Hukum menyelenggarakan mayit adalah fardlu kifayah atas orang yang mengetahui dari orang muslimin (lk) yang mukallaf. Maka tidak dianggap pekerjaan malaikat,perempuan atau anak kecil. Sebagaimana ijmaa’ul ulama’ yang disandarkan pada hadits-hadits yang akan datang pada bab-babnya, yang diwajibkan bagi mayit atas orang muslim (lk) yang mukallaf ada 4 perkara, yaitu:

1. Memandikan mayit
Syarat-syarat mayit yang perlu dimandikan
a. Mayit itu seorang islam
b. Ada tubuhnya walaupun sedikit
c. Meninggal bukan karena mati syahid.

Hukum memandikan mayit adalah sebagai berikut:
1.      Wajib          :bagi orang muslim yang meninggalnya bukan karena perang di medan perang(melawan orang kafir), dan bukan bayi keguguran yang belum nampak anggota badannya.
2.      Mubah        : bagi orang kafir dzimmi dan bayi keguguran yang belum nampak anggota badannya.
3.      Haram         : orang yang mati syahid di medan peperangan.

Tata cara memandikan mayit :
1.      Paling sedikitnya: ( yang wajib ) menyiramkan air keseluruh badan mayit baik rambut atau kulit setelah menghilangkan najis ‘ainiyah yang ada pada mayit.
2.      Sempurnanya     : membasuh jalan depan dan belakang, menghilangkan kotoran-kotoran yang ada pada mayit, mewudlui mayit, memandikan mayit tiga siramannya atau ganjil, yang mana awalnya dengan sidir (daun bidara) atau sabun dan akhirnya dengan kapur barus.
Lebih jelasnya mari kita lihat dalam bagan dibawah ini:
Jumla siraman
Air + sidir / sabun
Air
Air + kapur
3
1
1
1
5
1
1
3
7
2
2
3
9
3
3
3
.          

Aturan memandikan mayat:
a)      Mayat laki-laki dimandikan laki-laki, dan sebaliknya mayat wanita dimandikan pula oleh wanita, kecuali mahromnya laki-laki diperbolehkan..
b)      Sebaiknya orang yang memandikan keluarganya yang terdekat.
c)       Suami boleh memandikan isterinya, dan sebaliknya.
d)     Yang memandikan tidak boleh menceritakan tentang cacat tubuh mayat itu andaikata ia bercacat.

2. Mengkafani mayit
Setelah mayat dimandikan dengan cukup sempurna, maka fardu kifayah bagi tiap-tiap mukmin untuk mengkafaninya. Kafan mayit diambilkan dari harta peninggalan mayit,jika tidak ada maka dari orang yang wajib menafkahinya ketika masih hidup, jika tidak ada maka diambilkan dari waqof kafan, jila tidak ada maka dari baitul maal, jika tidak ada maka dari orang muslim yang kaya.
Hukum mengkafani mayit ada 3:
a)      Wajib   : bagi orang muslim, kafir dzimmi, (selain bayi keguguran yang belum nampak anggota badannya).
b)      Sunnah: bayi keguguran yang belum nampak anggota badannya.
c)      mubah : kafir harbi
Hak-hak kafan ada 4:
a)      Haknya Allah  : apa-apa yang menutupi aurot mayit.
b)      Haknya mayit  : apa-apa yang menutupi seluruh badan mayit dari kafan lapisan pertama.
c)      Haknya ghuroma’ : kafan lapisan kedua,ketiga.
d)     Haknya ahli warits : kafan lebih dari tiga lapis.
Kafan mayit:
a)      Paling sedikitnya : kain yang bisa membungkus seluruh badab mayit baik laki-laki maupun perempuan.
b)      Sempurnanya       :      a) Laki-laki      : 3 lapis kain putih
b. Perempuan  :2lapiskainputih+sarung+qomis+   kerudung








3. Mensolati mayit
           Hukum menyolati mayit ada 3:
1.      Wajib   : orang muslim yang bukan karena syahid dan bukan bayi keguguran yang keluar dalam keadaan meninggal.
2.      Haram : orang yang syahid dalam medan peperangan, orang kafir dan bayi keguguran yang keluar dalam keadaan meninggal.
3.      Khilaful aula   : mengulangi sholat mayit.

Adapun waktu masuknya sholat jenazah adalah mulai dari dimandikannya mayit. Sedangkan syarat-syaratnya adalah sama seperti syarat-syaratnya sholat, hanya saja ditambah dengan syarat berdirinya tidak boleh mendahului atas mayit.

Rukun-rukun saholat jenazah ada7:
1.      Niat.
2.      Empat takbir.
3.      Berdiri bagi yang mampu.
4.      Membaca surat Al Fatihah.
5.      Membaca sholawat atas Nabi SAW setelah takbir yang ke dua.
6.      Membaca do’a bagi mayit setelah takbir yang ke tiga.
7.      Salam.

Orang yang utama dalam menyolati mayit adalah kerabatnya yang lebih dekat kemudian dekat dst. Shalat jenazah dapat dilakukan atas seorang mayit atau beberapa orang mayit sekaligus. Shalat mayit boleh pula dilakukan beberapa kali, misalnya mayit sudah dishalatkan oleh sebagian orang, kemudian datanglah beberapa orang lagi untuk menyhalatkannya dan seterusnya.

              Jika shalat dilakukan berjamaah, maka Imam berdiri dengan menghadap kiblat, sedang makmum berbaris dibelakangnya, mayit diletakkan dengan melintang di hadapan Imam dan kepalanya disebelah kanan Imam. Jika mayit laki-laki hendaknya Imam berdiri menghadap dekat kepalanya, dan jika mayit wanita, Imam menghadap dekat perutnya.Salat jenazah tidak dengan ruku’ dan sujud serta tidak dengan adzan dan iqamat.










Cara Melaksanakan salat jenazah
             Setelah berdiri sebagaimana mestinya akan mengerjakan salat, maka:
1.      Niat menyengaja melakukan shalat atas mayit, dengan empat takbir menghadap kiblat karena Allah.
أصلي على هذا الميت / أصلي على من صلى عليه الإمام
2.      Takbiratul ihram ; mengucapkan   الله أكبر bersamaan niat.
3.      Membaca surat Al Fatihah (tidak membaca surat-surat yang lain), terus takbir.
4.      Sesudah takbir yang kedua, terus membaca salawat atas Nabi sebagai berikut :
اللهم صل عل سيدنا محمد و عل آل سيدنا محمد كما صليت على سيدنا إبرهيم و على آل سيدنا إبراهيم و بارك على سيدنا محمد و على آل سيدنا محمد كما باركت على سيدنا إبراهيم و على آل سيدنا إبراهيم في العالمين حميد مجيد
5.      Setelah takbir yang ketiga, kemudian membaca doa sekurang-kurangnya sebagai berikut :
اللهم اغفر له (لها) وارحمه (ها)  و عافه (ها) واعف عنه (ها)
Artinya : Ya Allah, ampunilah dia, berilah rahmat dan sejahtera dan maafkanlah   dia.
6.      Selesai takbir keempat, membaca doa sebagai berikut :
اللهم لا تحرمنا أجره (ها) و لا تفتنا بعده (ها) واغفر لنا و له (ها)
Artinya ; Ya Allah janganlah kiranya pahalanya tidak sampai kepada kami, dan janganlah Engkau memberi kami fitnah sepeninggalnya, dan ampunilah kami dan dia.
7.      Kemudian memberi salam sambil memalingkan muka ke kanan dan ke kiri dengan ucapan :
السلام عليكم و رحمة الله و بركاته
Artinya : Keselamatan dan rahmat dan barokah Allah semoga tetap pada kamu sekalian.










 4. menguburkan mayit
Setelah jenazah disholatkan sunahnya disegerakan diangkut ke kuburan. 
            Hukum menguburkan mayit ada 3:
1.      Wajib   : bagi orang muslim, kafir dzimmi, (selain bayi keguguran yang belum nampak anggota badannya).
2.      Sunah  : bayi keguguran yang belum nampak anggota badannya.
3.      Mubah : bagi kafir harbi (tetapi apabila tidak dikubur baunya mengganggu orang lain maka menguburnya hukumnya wajib).
Menguburkan mayat bertujuan untuk menjaga kehormatannya oleh karena itu paling sedikitnya mengubur adalah lubang yang biasa menutupi baunya dan aman dari binatang buas. Sedangkan sempurnanya adalah ukuran tingginya orang pada umumnya ditambah dengan panjang tangannya ( sak dedeg sak pengawe ). Dan disunahkan menempelkan pipinya dengan tanah, serta wajib menghadapkannya ke kiblat.

Tata cara mengubur mayit ada 2:
1.      Lahad  : Liang lahad dibuat dipinggir arah kiblat.
2.      Syaq    : Liang dibuat ditengah galian seperti sungai.

 Adapun mayit wajib digali karena beberapa perkara:
1.      Karena belum dimandikan jika belum berubah.
2.      Untuk dihadapkan ke kiblat jika belum berubah.
3.      Karena harta yang dikubur bersamanya.
4.      Karena janin yang dikubur bersamanya dan di harapkan masih hidup

D. TA’ZIYAH
Arti ta’ziyah menurut bahasa adalah menghibur. Sedang menurut istilah adalah anjuran untuk bersabar atas musibah yang menimpa keluarga mayit dan mengingatkan agar jangan putus asa, serta mendoakan mayit dan mendoakan keluarga agar Allah ganti dengan yang lebih baik.
Hukumnya     :Sunnah ta’ziyah pada kerabat mayit kecuali perempuan yang   masih muda      yang bukan mahromnya.

KeutamaannyaAllah memberikan pakaian padanya dari sutra karomah pada hari kiamat,
pahala orang yang tertimpa musibah

Waktunya      :Dari dikuburnya mayit sampai tiga hari, kecuali orang yang jauh tempatnya maka
dari datangnya sampai tiga hari.

Doanya: أعظم الله أجرك و أحسن عزاءك و غفر لميتك dengan berjabat tangan.

Adapun hukum menangis boleh-boleh saja asalkan tidak menimbulkan suara yang keras serta disertai dengan meratap dan memukuli wajahnya atau menyobek bajunya. Karena yang demikian menyebabkan mayit disiksa di dalam kubur.
Nabi SAW bersabda:
 عن ابن عمر رضي الله عنهما عن النبي صلى الله عليه و سلم قال: ( الميت يعذب في قبره بما نيح عليه )- متفق عليه
Artinya: Dari Abdulla bin Umar RA dari Nabi SAW bersabda: Mayit di’adzab dalam kuburnya disebabkan tangisan padanya. (HR. Bkhori dan Muslim)


E. MATI SYAHID
            Orang yang mati syahid  yaitu orang yang mati di medan perang untuk meninggikan agama Allah. Diharamkan menyembahyangkan mereka, sebab darah orang yang mati syahid itu di hari kiamat akan jadi kusturi (bau wangi) di hadirat Tuhan.
Adapun orang yang mati syahid dibagi atas beberapa macam :
1.      Syahid dunia: yaitu orang yang mati di medan perang, hanya sekedar untuk mempertahankan tanah air, diri dan hartanya.
2.      Syahid akhirat: yaitu orang yang mati karam, terbenam, sakit perut, mati melahirkan anak.
3.      Syahid dunia dan akhirat: yaitu orang-orang yang mati di medan perang untuk meninggikan kalimah Tuhan.
Diatas syahid yang ketiga ialah terletaknya haram memandikan dan menyholati mereka. Adapun syahid yang pertama dan kedua itu diperlakukan sebagaimana mayat biasa asal saja badannya tidak hancur ketika mati itu.















F. ZIARAH KUBUR
            Dalil ziarah kubur:

عن بريدة بن الحصيب الأسلمي رضي الله عنه قال : قال رسول الله صلى الله عليه و سلم : (كنت نهيتكم عن زيارة القبور فزوروها ) –رواه مسلم و زاد الترمذ ( فإنها تذكر الآخرة )

Artinya; Dari buraidah al Hashib al salami RA berkata: Rosulullsh bersabda: adalah saya dulu  melarang kalian dari ziarah kubur sekarang ziarahlah 



عن أبي هريرة رضي الله عنه أنّ رسول الله صلى الله عليه و سلّم قال:( لعن الله زاءرات القبور )- رواه الترمذي و صححه إبن حبان
Artinya: Dari Abi Huroiroh RA sesungguhnya Rosul SAW bersabda: Allah mela’nat perempuan yang berziarah kubur (HR Tirmidzi dan disahkan oleh Ibnu Hibban).
Ziarah kubur hukumnya adalah sunah bagi orang laki-laki sebagaimana hadits di atas adapun perempuan dilarang, karena biasanya tidak kuat menahan tangis serta menimbulkan fitnah. Allah tidak melaknat suatu perbuatan kecuali itu dosa besar. Ziarah kubur itu dapat mengingatkan kita, bahwa kita sekarang masih diberi kenikmatan umur yang masih ada, namun bagaimanapun juga pada saatnya kita juga seperti yang kita ziarahi ini, yaitu mati. Karena itu sebelum mati itu datang, kita harus memperbanyak amal ibadah dan sedekah, sebagai bekal kelak di akhirat. Dan sebaik-baiknya bekal hanyalah taqwa kepada Allah SWT.

Adab ziarah kubur :
a.                   Mengucapkan salam ketika memasuki tanah kuburan
b.                  Membaca ayat-ayat Al Qur’an, seperti yasin dll.
c.                   Mendoakan ahli kubur, terutama yang diziarahi
d.                  Hendaknya bersikap sopan
e.                   Jika tidak memungkinkan berziarah ke kubur kedua orang tua atau famili karena jauh, maka cukup mendoakan dari tempat dimana kita berada.









BAB III
PENUTUP
KESIMPULAN
- Bagi umat islam yang baik maka hendaklah selalu mengingat mati dimanapun berada.
- Kewajiban penyelenggaraan jenazah : memandikan, mengkafani, menyalatkan dan menguburkannya.
-  Rukun salat mayit : niat, berdiri, takbir empat kali, membaca fatihah, membaca salawat atas Nabi, mendoakan mayat, memberi salam.
-   Menghadiri takziah dan ziarah kubur memberikan banyak hikmah dan manfaat.






























Daftar pustaka
1. Zein bin smith. 2003. Taqriiroot Sadiidah. Surabaya : Daar Al Uluum Al    Islamy.
2. Ibnu Hajar Al Asqolany. 2003. Bulugul Marom.Beirut : Daar Al Kutub  Al     Ilmiyah.
3. Musthofa .Dr. 1983.  Tadzhiib. Daar Al Fikri.
4. Mohamad Rifa’i. 1998. Mutiara Fiqh Jilid I. Semarang : Wicaksana.
5. Sulaiman, Rasjid. Fiqh Islam. Bandung : Sinar Baru.
            6. Ahmad, Masyhur. 1998. Durrot Al Yatiimah. Jakarta: Daar Al hawi.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar